
ciri ciri pendidikan di indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini
sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang
peringkat Indeks Pengembangan Manu sia (Human Development Index), yaitu komposisi
dari peringkat pencapaian pendidi kan, kesehatan, dan penghasilan per kepala
yang menunjukkan, bahwa indeks pengem bangan manusia Indonesia makin menurun. Di
antara 174 negara di dunia, Indonesia
menempati urutan ke-102
(1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political
and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidika
n di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari
12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan
The World Economic Forum Swedia ( 2000), Indonesia memiliki daya saing yang
rendah, yaitu hanya menduduki urutan k e-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.
Dan masih menurut survai dari lembag a yang sama Indonesia hanya berpredikat
sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di
Indonesia menjadi heboh. Kehebohan ters ebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu
pendidikan nasional tetapi lebih banya k disebabkan karena kesadaran akan bahaya
keterbelakangan pendidikan di Indonesi
a. Perasan ini disebabkan
karena beberapa hal yang mendasar.
Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21
gelombang globalisasi dirasakan kuat d an terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan
yang terjadi memberikan kesadaran b aru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri
sendiri. Indonesia berada di tengah-tenga h dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang
bebas membandingkan kehidupan de ngan negara lain.
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya
ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan
hasil itu diperoleh setelah kita me mbandingkannya dengan negara lain. Pendidikan
memang telah menjadi penopang dala m meningkatkan sumber daya manusia Indonesia
untuk pembangunan bangsa. Oleh kare na itu, kita seharusnya dapat meningkatkan
sumber daya manusia Indonesia yang ti dak kalah bersaing dengan sumber daya manusia
di negara-negara lain.
Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu
juga ditunjukkan data Balitbang (2 003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia
ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The
Primary Years Program (PYP). Dari 2
0.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya
delapan sekolah yang mendapat pengaku an dunia dalam kategori The Middle Years
Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternya ta hanya tujuh sekolah saja yang mendapat
pengakuan dunia dalam kategori The Dip loma Program (DP).
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di
Indonesia antara lain adalah masalah efekt ifitas, efisiensi dan standardisasi
pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masal ah pendidikan di Indonesia pada umumnya.
Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:
Rendahnya sarana fisik,
Rendahnya kualitas guru,
Rendahnya kesejahteraan
guru,
Rendahnya prestasi siswa,
Rendahnya prestasi siswa,
Rendahnya kesempatan
pemerataan pendidikan,
Rendahnya relevansi pendidikan dengan
kebutuhan, Mahalnya
biaya pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana ciri-ciri pendidikan di Indonesia? Bagaimana kualitas
pendidikan di Indonesia?
Apa saja yang menjadi
penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia?
Bagaimana solusi yang
dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidi kan di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Mendeskripsikan ciri-ciri
pendidikan di Indonesia.
Mendeskripsikan kualitas
pendidikan di Indonesia saat ini.
Mendeskripsikan hal-hal
yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di I ndonesia.
Mendeskripsikan solusi
yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan p endidikan di Indonesia.
1.4
Manfaat Penulisan
Bagi Pemerintah
Bagi Pemerintah
Bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam
meningkatkan kualitas pendidikan di Indo nesia.
Bagi Guru
Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar
agar para peserta didiknya dapat ber prestasi lebih baik dimasa yang akan datang.
Bagi Mahasiswa
Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar
dalam rangka meningkatkan prestasi d iri pada khususnya dan meningkatkan kualitas
pendidikan pada umumnya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ciri-ciri Pendidikan
di Indonesia
Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia
sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan
Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia
untuk kepentingan bangsa Indonesia.
Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan
di sekolah-sekolah atau perguruanperguruan tinggi melalui bidang studi-bidang
studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan
soal-soal, pemecahan berbagai mas alah, menganalisis sesuatu serta
menyimpulkannya.
2.2 Kualitas Pendidikan di
Indonesia
Seperti yang telah kita ketahui, kualitas
pendidikan di Indonesia semakin membur uk. Hal ini terbukti dari kualitas guru,
sarana belajar, dan murid-muridnya. Gur u-guru tentuya punya harapan terpendam yang
tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang
kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain
atau kekurangan dana. Kecuali guru-gu ru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya
menjadi guru. Selain berpengalama
n mengajar murid, mereka memiliki pengalaman
yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru.
Jika fenomena ini dibiarkan berlan jut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia
akan hancur mengingat banyak guru-g

uru berpengalaman yang
pensiun.
â Pendidikan ini menjadi tanggung jawab
pemerintah sepenuhnya,â kata
Presiden Susilo Bam ang
Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudir
man, Jakarta, Senin (12/3/2007).
man, Jakarta, Senin (12/3/2007).
Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan
dilakukan oleh pemerintah dalam r angka meningkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia, antara lain yaitu:
Langkah pertama yang akan
dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses ter hadap masyarakat untuk
bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dar i angka partisipasi.
Langkah kedua,
menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa
dan kota, serta gender.
Langkah ketiga,
meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi
guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasion
al.
guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasion
al.
Langkah keempat,
pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi
sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yan g dibutuhkan.
Langkah kelima, pemerintah
berencana membangun infrastruktur seperti menamba h jumlah komputer dan
perpustakaan di sekolah-sekolah.
Langkah keenam, pemerintah
juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahu
n ini dianggarkan Rp 44
triliun.
Langkah ketujuh, adalah
penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendid ikan.Langkah terakhir,
pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fa silitas penddikan.
2.3 Penyebab Rendahnya
Kualitas Pendidikan di Indonesia
Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab
rendahnya kualitas pendidikan di I ndonesia secara umum, yaitu:
2.3.1 Efektifitas
Pendidikan Di Indonesia
Pendidikan yang efektif adalah suatu
pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan
dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian,
pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan
keefektifan pembelajaran agar pembela jaran tersebut dapat berguna.
Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa
pendidikan formal dinilai hanya me njadi formalitas saja untuk membentuk sumber
daya manusia Indonesia. Tidak perdu li bagaimana hasil pembelajaran formal
tersebut, yang terpenting adalah telah me laksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi
dan dapat dianggap hebat oleh masya rakat. Anggapan seperti itu jugalah yang
menyebabkan efektifitas pengajaran di I ndonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai
kelebihan dibidangnya masing-masi ng dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan
sesuai bakat dan minatnya bukan ha nya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya,
seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program
studi IPA akan menghasilkan efekt ifitas pengajaran yang lebih rendah jika
dibandingkan peserta didik yang mengiku ti program studi yang sesuai dengan bakat dan
minatnya. Hal-hal sepeti itulah ya ng banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya
masalah gengsi tidak kalah penting nya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas
pendidikan di Indonesia.
2.3.2 Efisiensi Pengajaran
Di Indonesia
Efisien adalah bagaimana
menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan prose

s
yang lebih â murahâ . Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik
jika kita memperhitu gkan
untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal
-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kuran
g mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang te
lah disepakati.
-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kuran
g mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang te
lah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di
dindonesia adalah mahalnya biaya pendid ikan, waktu yang digunakan dalam proses
pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses
pendidikan di Indonesia. Yang jug a berpengaruh dalam peningkatan sumber daya
manusia Indonesia yang lebih baik.
Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan,
kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga
pendidikan formal atau informal lai
n yang dipilih, namun kita juga berbicara
tentang properti pendukung seperti buk u, dan berbicara tentang biaya transportasi
yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah
dasar negeri, memang benar jika s udah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran,
nemun peserta didik tidak hanya i tu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks
pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal
itu diwajibkan oleh pendidik yang b erssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada
pendidik yang mewajibkan les kepada pe serta didiknya, yang tentu dengan bayaran
untuk pendidik tersebut.
Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di
Indonesia, masalah lainnya adalah wa ktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat
kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika
dibandingkan negara lain. Dalam pendi dikan formal di sekolah menengah misalnya, ada
sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri
sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati
lagi, peserta didik yang mengikuti
proses pendidikan formal
yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak pesert a didik yang mengikuti
lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, ba hasa, dan sebagainya.
Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama ter sebut tidak efektif juga,
karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan inf ormal untuk melengkapi
pendidikan formal yang dinilai kurang.
Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar
disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja,
pengajar A mempunyai dasar pendidikan d i bidang bahasa, namun di mengajarkan
keterampilan, yang sebenarnya bukan kompet ensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika
kita melihat kondisi pendidikan d i lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah
pendidik tidak dapat mengomunikasika
n bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah
dimengerti dan menbuat tertarik p eserta didik.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita
menggunakan sistem pendidikan kurikulu
m 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses penga
jaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika men
gganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar har
us diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Se
hingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap ku
aran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efek
tif.
m 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses penga
jaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika men
gganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar har
us diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Se
hingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap ku
aran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efek
tif.
Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran
yang diinginkan dapat dihasilkan se cara optimal dengan hanya masukan yang
relative tetap, atau jika masukan yang se kecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang
optimal. Konsep efisiensi sendiri
terdiri dari efisiensi
teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam
pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah
ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga
sudah diterapkan terhadap keluaran.
2.3.3 Standardisasi
Pendidikan Di Indonesia

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan
di Indonesia, kita juga berbicara t entang standardisasi pengajaran yang kita
ambil. Tentunya setelah melewati prose s untuk menentukan standar yang akan diambil.
Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar
dan kompetensi dalam pendidikan fo rmal maupun informal terlihat hanya
keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an
kompetensi di dalam berbagai versi,
demikian pula sehingga
dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisa
si dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP
).
si dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP
).
Selain itu, akan lebih baik jika kita
mempertanyakan kembali apakah standar pend idikan di Indonesia sudah sesuai atau belum.
Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai
adanya sistem evaluasi seperti UAN sud ah cukup baik, namun yang kami sayangkan
adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik
mengikuti pendidikan, hanya dilaksa nakan sekali saja tanpa melihat proses yang
dilalu peserta didik yang telah mene npuh proses pendidikan selama beberapa tahun.
Selain hanya berlanhsug sekali, ev aluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang
studi saja tanpa mengevaluasi bid ang studi lain yang telah didikuti oleh
peserta didik.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di
Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas y ang kami bahas di atas. Banyak hal yang
menyebabkan rendahnya mutu pendidikan ki ta. Tentunya hal seperti itu dapat kita
temukan jika kita menggali lebih dalam a kar permasalahannya. Dan semoga jika kita
mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia
sehingga jadi kebih baik lagi.
Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas
pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah
yang menyebabkan rendahnya kuali tas pendidikan di Indonesia.
2.3.3.1 Rendahnya Kualitas
Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali
sekolah dan perguruan tinggi kita yan g gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan
media belajar rendah, buku perpust akaan tidak lengkap. Sementara laboratorium
tidak standar, pemakaian teknologi i nformasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan
masih banyak sekolah yang tidak me miliki gedung sendiri, tidak memiliki
perpustakaan, tidak memiliki laboratorium
dan sebagainya.
dan sebagainya.
Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan
untuk satuan SD terdapat 146.052 lem baga yang menampung 25.918.898 siswa serta
memiliki 865.258 ruang kelas. Dari se luruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440
atau 42,12% berkondisi baik, 299.581
atau 34,62% mengalami
kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengala mi kerusakan berat. Kalau
kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tin ggi karena kondisi MI
lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga ter jadi di SMP, MTs, SMA, MA,
dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.
2.3.3.2 Rendahnya Kualitas
Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat
memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memili ki profesionalisme yang memadai untuk
menjalankan tugasnya sebagaimana disebut d alam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan
pembelajaran, melaksanakan pembel ajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan, melakukan pelatihan,
melakukan penelitian dan
melakukan pengabdian masyarakat.
Bukan itu saja, sebagian
guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengaja
r. Persentase guru menurut kelayakan mengajar
dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak
mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28

,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan
60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% ( negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK
yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan
dengan tingkat pendidikan guru itu send iri. Data Balitbang Depdiknas (1998)
menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/M I hanya 13,8% yang berpendidikan diploma
D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, da ri sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8%
yang berpendidikan diploma D3-Kepend idikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah,
dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat
pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen , baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas
(3,48% berpendidikan S3).
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya
faktor penentu keberhasilan pendid ikan tetapi, pengajaran merupakan titik
sentral pendidikan dan kualifikasi, seba gai cermin kualitas, tenaga pengajar
memberikan andil sangat besar pada kualitas
pendidikan yang menjadi
tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rend ah juga dipengaruhi oleh
masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
2.3.3.3 Rendahnya
Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran
dalam membuat rendahnya kualitas pe ndidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII
(Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang
guru menerima gaji bulanan serbes ar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan
rata-rata guru PNS per bulan sebesar R p 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru
honorer di sekolah swasta rata-rat a Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan
seperti itu, terang saja, banyak guru te rpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang
mengajar lagi di sekolah lain, me mberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek,
pedagang mie rebus, pedagang buku /LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya
(Republika, 13 Juli, 2005).
Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali
kesejahteraan guru dan dosen (PNS) a gak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan
jaminan kelayakan hidup. Di dalam
pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan me madai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjan gan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan den gan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak
atas rumah dinas.
pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan me madai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjan gan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan den gan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak
atas rumah dinas.
Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta
dan negeri menjadi masalah lain yang
muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit menc
apai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen
dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahte
raan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006
).
muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit menc
apai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen
dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahte
raan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006
).
2.3.3.4 Rendahnya Prestasi
Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya
sarana fisik, kualitas guru, dan kes ejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun
menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan
matematika siswa Indonesia di dunia interna sional sangat rendah. Menurut Trends in
Mathematic and Science Study (TIMSS) 200 3 (2004), siswa Indonesia hanya berada di
ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal
prestasi matematika dan di
ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sain
s. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di
bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu
United Nations for Development Progra mme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi
tentang kualitas manusia secara se rentak di seluruh dunia melalui laporannya
yang berjudul Human Development Repor t 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia
hanya menduduki posisi ke-111 dar

i 177 negara. Apabila dibanding dengan
negara-negara tetangga saja, posisi Indon esia berada jauh di bawahnya.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu
menguasai 30% dari materi bacaan dan te rnyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal
berbentuk uraian yang memerlukan p enalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat
terbiasa menghafal dan mengerjaka
n soal pilihan ganda.
2.3.3.5 Kurangnya
Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih
terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data
Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Depart
emen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia S
D pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk
kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 5
4, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat
terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pen
gembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan keb
ijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ket
idakmerataan tersebut.
Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Depart
emen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia S
D pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk
kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 5
4, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat
terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pen
gembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan keb
ijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ket
idakmerataan tersebut.
2.3.3.6 Rendahnya
Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya
lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990
menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%,
Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT s ebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama
pertumbuhan kesempatan kerja cuku p tinggi untuk masing-masing tingkat
pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%.
Menurut data Balitbang
Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putu s sekolah dan tidak
memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ket enagakerjaan tersendiri.
Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebu tuhan dunia kerja ini
disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terha dap keterampilan yang
dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
2.3.3.7 Mahalnya Biaya
Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini
sering muncul untuk menjustifikasi mah alnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat
untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman
Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi ( PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki
pilihan lain kecuali tidak bersekol ah. Orang miskin tidak boleh sekolah.
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini
tidak lepas dari kebijakan pemerint ah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis
Sekolah). MBS di Indonesia pada reali tanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk
melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan
organ MBS selalu disyaratkan adan ya unsur pengusaha.
Asumsinya, pengusaha
memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setela
h Komite Sekolah
terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, â sesuai keputusan Komite Sekolahâ . Namun, pada tingkat
implementasinya, ia tidak transparan, karena ya ng dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite
Sekolah adalah orang-orang dekat
dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebij
akan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggun
g jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebij
akan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggun
g jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
2.4 Solusi dari
Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia
Untuk mengatasi masalah-masalah di atas,
secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan
mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti
diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang
diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem
ekonomi kapitalisme (mazhab neolib eralisme), yang berprinsip antara lain
meminimalkan peran dan tanggung jawab neg ara dalam urusan publik, termasuk pendanaan
pendidikan.
Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang
menyangkut hal-hal teknis yang berkait l angsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya
untuk menyelesaikan masalah kuali tas guru dan prestasi siswa.
Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis
dikembalikan kepada upaya-upaya prakti s untuk meningkatkan kualitas sistem
pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misaln ya, di samping diberi solusi peningkatan
kesejahteraan, juga diberi solusi denga
n membiayai guru melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, dan member
ikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi sis
wa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pe
lajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagai
nya.
ikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi sis
wa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pe
lajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagai
nya.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih
sangat rendah bila di bandingkan d engan kualitas pendidikan di negara-negara
lain. Hal-hal yang menjadi penyebab u tamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan
standardisasi pendidikan yang masih ku rang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang
menjadi penyebabnya yaitu:
Rendahnya sarana fisik,
Rendahnya kualitas guru,
Rendahnya kesejahteraan
guru,
Rendahnya prestasi siswa,
Rendahnya prestasi siswa,
Rendahnya kesempatan
pemerataan pendidikan,
Rendahnya relevansi pendidikan dengan
kebutuhan, Mahalnya
biaya pendidikan.
Adapun solusi yang dapat diberikan dari
permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan
dengan sistem pendidikan, dan menin gkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.
3.2 Saran
Perkembangan dunia di era globalisasi ini
memang banyak menuntut perubahan kesis tem pendidikan nasional yang lebih baik serta
mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di
lakukan bangsa Indonesia agar tidak
semakin ketinggalan dengan
negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualit as pendidikannya terlebih
dahulu.
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan
berarti sumber daya manusia yang terlahi r akan semakin baik mutunya dan akan mampu
membawa bangsa ini bersaing secara se hat dalam segala bidang di dunia
internasional.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous,2000.The World
Economic Forum Swedia .Diakses dari
http://forum.deti
k.com.Tanggal 10 Desember
2009.
Anonymous,2000.
Efektivitas-dan-efisiensi-anggaran.
http://tyaeducationjournals.blogspot.com.
Tanggal 10 Desember 2009 Anonymous,20
09. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia.
Diakses dari http://www.detiknews.com. Tanggal 10 Desember 2009
Anonymous,2009. Sistem
pendidikan .Diakses dari
http://www.sib-bangkok.org. Tanggal 10
Desember 2009.
Pidarta, Prof. Dr. Made. 2004. Manajemen
Pendidikan Indonesia. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Anonymous,2009.Masalah-pendidikan-di-indonesia.Oleh
http://www.sayapbarat.wo rdpress.com/2007/08/29/Lhani
di/pada Maret 8, 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar